Senin, 14 Juni 2010

Senyum

Ada senyum di mata elang yang membuatku ingin segera terbang.

Ada senyum di pucuk bintang, membuatku yakin segera terbang.

Ada senyum di pepohonan rindang, tempat sayapku tersangkut dahan... Sekarang terbang.

Dia tersenyum di tempat tempat, di ruang yang kutatap.
Dia tersenyum memberi hiburan, pada alam juga badan. Dirinya sendiri...
Dia tersenyum membawa tangis di kedalaman
Dia tetap tersenyum menjaga tawa berlebihan.
Dia terus tersenyum, menutup sedih berkepanjangan.

Senyum itu dia
Dia adalah senyum.

Yang seharinya diisi tangis dan muram.
Tapi detiknya tak lepas dari senyum.

Detik penuh senyum
Senyum penuh detik
Detik dalam Senyumnya

Menghibur dia dan dia serta mereka

Senyum lembayung
Senyum lalu yang tak layu...
Hanya maya... Sesekali dirundung pilu.

Itu senyumku...

Rindu

Cinta...
Kurindui senyummu
Kurindui basah bibirmu
Kurindui damai tatapmu
Ku juga rindui hangat dekapmu

aku merindumu,
seperti kurindui siang saat datang malam
laksana kurindui pagi saat siang mulai terik
kurindui senja teduh saat pagi mulai menghilang...

Aku merindui embun saat tak ada sejuk
Dan tetes air mata langit kala matahari bebas berlalu lalang dalam musimnya

aku sangat merindumu... Seperti itu...

Sentuhmu saat menyeka air mataku
Suaramu bila menenangkanku
Dan ucapmu yang meyakinkanku

aku...
Sangat merinduimu imamku.
Bahasa, kata apalagi yang bisa mewakili ini cintaku...
Aku sangat ingin menggantinya
dengan bahasaku
bahasa kita saja...

Yang jelas, aku merindumu. imamku...

Imamku untuk sekarang dan nanti...

sebelas

Kamu sekarang sebelas
matamu sebelas, rambut, tangan, kaki juga sebelas.
Semuanya serba sebelas.

7 juni silam...
7 juni 1999, tepat saat pemilu...
Di dini hari yang dingin. 01.30... Dia kesakitan... Ibu

hingga pagi jam 07.00 kalian 'memilih' bersama.
Meski kamu sudah tidak sabar.
Mengetuk pintu sekerasnya ingin segera masuk.

Dunia yang kan kau perbaiki...

lalu, kau sundul pintu itu lebih keras lagi.
Sampai 13.30... Terik! Panas...
Kau dinginkan, dengan ekspresi bahagiamu

oe' oe'...

Ibu dan kami menangis...
Si pembawa kebaikan yang kokoh telah datang...
Itu dulu...

Hei, apakah kamu bahagia sekarang adikku?
Dengan sebelasmu?
Sudahkah kau memperbaiki dunia?

Hah... Belum cukup adikku...
Baru sebelas...
Kamu bisa lebih...

Jangan bangga dengan angka prima kembar itu...

Jangan!!

Ayo adikku, lawanlah... Bangkitlah lagi...

Untuk menerima dua belas, tiga belas, empat belasmu, dan seterusnya.

Perbaiki dunia, jadilah khalifah...

Seperti inginmu saat akan masuk kesini...

Ayo bantu kami yang sangat membutuhkan ini.

-to: kukuh prayogi, adikku. Lawanlah penyakit itu sayang...-