Menulis sesuatu yang berbau matematika tak semudah aku mengetik cerita-cerita fiksiku. hobi yang lebih menonjol ini memang sudah aku miliki sejak kecil, sejak masih duduk di bangku SD. padahal belum dibanding dwengn puisi. intinya aku lebih suka sastra dibanding keilmuahan
Walhasil, menelorkan suatu karya ilmiah sulit untukku.lebih enak menulis sebuah cerita, sampai suatu ide datang padaku. bagaimana jika belajar matematika itu dengan cerita saja. Oh ya....
aha.... mungkin bagus, dan semoga aja memang bagus.
Aljabar, sebuah disiplin ilmu yang sangat aku suka pun tak bisa mengalahkan kecintaanku pada sastra, selama ini aku hanya bisa menjawab soal dan belum bisa menulis soal itu. kapan ya, aku bisa menulis soal itu? tokoh-tokh favoritku bukan Phytagoras, Einstein atau yang lain. tapi Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, dan yang lain.
penguasaanku terhadap teori sastra memang kurang, aku hanya belajar di SD-SMA, sedang disini aku mepelajari matematika. tapi entah kenapa, dari teori yang sedikit itu, aku justru lebih gemar membaca buku di perpus tentang satra dan malah malas membaca buku matematika. Al hasil, akupun lebih enjoy menulis 'sastra'
Sebaliknya, disini aku belajar banyak tentang definisi dan teorema matematika, paham memang. tapi sejauh ini aku belum bisa mengaplikasikan bahkan menulis sesuatu yang mungkin akan berguna bagi orang lain. aku pernah mencoba menulis, ta[pi susah. jika dibanding dengan cerpen yang hanya sekali duduk sudah selesai, aku membutuhkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk menyelesaikan tulisanku tentang 'persamaan kuadrat' yang insyaallah akan aku post selanjutnya. tulisan ini berguna untuk tingkat SMA kelas 1. aku ingin mengemas dengan bahasa yang komunikatif.
perlu diketahui bahwa, bahasa matematika yang sering kita pakai saat ini bersifat informatif, sistematis, kritis, tapi kurang komunikatif. kenapa kurang komunikatif? karena ada bagian dari matematika yang terkadang hanya bisa dibaca oleh seorang matematika dan tidak bisa dibaca oleh orang yang bekerja di bidang lain.