Selasa, 03 Maret 2009

penipuan

Penipuan

Alhamdulillah, aku dapat kerja!!! detik demi detik kujalani dengan penuh kesabaran, semangat dan rasa tanggung jawab yang besar. Amanah yang mereka berikan padaku sangat besar, sehingga akupun harus senantiasa melakoni itu dengan penuh tanggung jawab. Tak tanggung-tanggung, terkadang aku harus mengorbankan kuliahku hanya demi membuat putra-putri mereka ‘bisa’. Yah… inilah tugasku, menemani seorang adek belajar. Atau lebih tepatnya, seorang adek yang merasa kesulitan dalam belajar. Jelas, ini bukan tugas mutlak bagiku. Tapi aku telah dibayar dengan uang. Tidak etis rasanya, jika aku tidak berhasil memberikan yang terbaik untuk mereka.
Awalnya, semua berjalan apa adanya. Sampai suatu ketika Allah mengirim seorang adek kecil bernama Agung yang masih duduk di kelas 1 SD padaku. Aku senang sekali, karena aku kira mengajar adek sekecil itu akan jauh lebih mudah dari pada mengajari adek-adek yang sudah besar. Tidak tahunya,…
Aku semakin dibingungkan oleh suasana dimana adek itu belum bisa membaca sama sekali. Jangankan membaca, membedakan huruf “M” dengan “N” pun dia masih kesulitan, Alhamdulillah… masih engkau beri aku cobaan seperti ini ya Allah. Semoga aku adalah orang yang merupakan “panjang tangan-Mu” untuk menolong keluarga ini. Amin
Waktu berjalan, Alhamdulillah sudah ada perubahan pada adek yang aku pegang ini. Wah, Kuasa-Mu ya Allah… tak pantas rasanya, aku membanggakan diri atas sesuatu yang hanya milik-Mu ini. Demi Allah, ini hanya milik-Mu. Aku berserah pada-Mu. Meskipun untuk ini aku harus datang setiap hari ke rumah keluarga ini dan harus mengorbankan jam kuliahku. Alhasil, Ip dibawah 3.5 pun kudapati. Hancur rasanya. Bukan menyesalkan atas apa yang telah terjadi. Tapi yang membuatku sakit adalah aku tidak mendapatkan sepeserpun dari mereka. Tak mengapa, jika mereka jujur tak mau membayar. Aku insyaallah legowo. Tapi ini??? Mereka janji akan menggajiku 18 rb per pertemuan. What??? Sampai dua bulan berlalu tak se-sen pun rupiah yang aku dapat. Uang untuk mengganti ongkos angkot pun tidak ada.
Suatu malam ketika aku hendak berangkat ke tempat adek Agung, tiba-tiba aku terjatuh. Untung masih di kos-kosan, jadi ada yang menolongku. Begitu sadar. Aku sudah ada di sebuah ruangan yang biasa menyekapku ketika aku sakit, “Rumah Sakit”. Yang perlu kalian tahu hanya aku sakit, kalian tak perlu tahu aku sakit apa. Yang jelas aku memang terbiasa pingsan. Itu sudah menjadi”custom”ku. Semenjak itu aku tak pernah kesana. Aku berusaha mengikhlaskan apa yang menjadi hak ku dimiliki oleh orang lain. Sampai suatu ketika, aku tidak punya uang sama sekali. Akhirnya aku ingat, kalau aku punya hak 2 bulan di orang lain. Aku sudah berusaha mengejar hak ku itu. Sekedar untuk meminta ganti uang ongkosku naik angkot. Tapi, mereka lari….
Mau marah rasanya….
Hari berganti, aku mencoba untuk bersabar, siapa tahu ada rezeki lain yang dikirim Allah selain dari hak ku itu, ya… 20rb uang ku dapat. Entah dari mana, kalau ga salah, dari recehan uang yang selalu kukumpulkan. “CELENGANKU”.
Semesteran datang, kembali aku mempertanyakan hak ku itu, kali ini hanya di hatiku. Meskipun aku tahu, uangku ga cukup untuk membayar semesteran kali ini. Heh… aku pulang, berharap orang tuaku bisa membantuku. Ternyata, apa yang terjadi di rumah jauh dari apa yang ku bayangkan!!!
Bapakku tersayang kecelakaan, tapi orang rumah tak memberitahuku. Jangankan untuk bekerja, jalan saja susahnya minta ampun. Tak hanya itu, mbahku sudah sangat renta untuk menjadi sehat. Banyak yang datang menjenguk beliau. Alhamdulillah, cobaan lagi ya Allah…
Entah kenapa, aku malas beribadah pada-Nya. Malas ngelesi, malas segalanya…
Aku ditipu!!! Dan aku telah ikut menjadi seorang penipu!!! Untuk Tuhanku, Bapakku, emakku, semua keluargaku!!!