Senin, 02 Maret 2009

Untuk Lintang,

Dulu aku tak pernah berani menatap langit
Disaat aku berani menatapnya
Aku dapati matahari… kamulah matahari hatiku…

Alfa terhenyak, kaget!!! Bagaimana bisa orang lain tahu tentang Lintang, nick-nya di ‘maya’. Padahal dia selalu memberikan alamat email yang lain. Itupun atas nama dia sendiri. Lagi pula di ruang ini dia hanya sendiri, tak ada yang lain. Kalaupun ada, ya… Laboran yang ada disamping ruang laboratorium ini. Tapi, ah… ga mungkin, mas Mukhlish kan orangnya pendiem banget dan ga mau kenal ma cewek. pikirnya
Dia masih berfikir keras, seolah-olah tak ingin mempercayai apa yang telah ia temukan. Dia mengingat-ingat kembali nama-nama mahasiwa jurusan Matematika. Tak tanggung-tanggung, dia langsung membuka nama-nama mahasiswa di jurusan itu. Kebetulan dia menjadi seorang asisten laboratorium di jurusan Matematika ini. Jadi sangat mudah bagi dia melacak nama Lintang yang lain selainnya.
‘Allahu Akbar.. . Allahu Akbar….’
“alhamdulillah…. Akhirnya, aku bisa buka puasa….”
“belum pulang Fa…???
“hah?!?” lagi-lagi kaget, “…ooo…., bapak toh, kirain sapa?”
“lho emang siapa?” tanya pak jamesh, dosen Alfa.
“eng…engg…enggak Pak” buru-buru Alfa menyembunyikan lipatan kertas putih bersih itu.
“apaan sih? Ga biasa-biasanya kamu kaya gini, … hayo….”
“em….. Hayo apaan sih Pak? ga ada apa-apa…, eh bapak sholat maghrib dimana? Di masjid?” tanya Alfa mengalihkan pembicaraan.
“ya iya, pulang kemaleman.”
“Terus mas Mukhlis, ikut sholat di masjid kampus sini juga?” selidik Alfa
“lho lho lho… bukannya Mukhlish tadi pamit ke kamu waktu mau pulang, kan tugas kamu beresin komputer-komputer ini!!!”…” dia pasrahin ke kamu tadi sebelum pulang!”
“hah?!?, yang bener Pak?”
“iya, udah dari tadi dia pulang, kamu mimpi ya tadi pas dia pulang, hehehe”
“ah, bapak bisa aja…” Udah Pak, mari… saya pulang dulu. Beres-beresnya sudah selesai nih, saya mau langsung ke masjid.”
“ya sudah, duluan saja.”
Sepanjang perjalanan ke masjid, Alfa tak henti-hentinya berfikir. Sebenernya siapa sih yang menaruh kertas di meja komputer yang sering dipakainya itu. Herannya, orang itu juga meninggalkan sebuah bintang berwarna biru muda diatas kertas. Seakan tahu bahwa Alfa sangat suka bintang.
“Pak jamesh kan sudah berkeluarga, tidak mungkin beliau yang menaruh. Lagipula, apa beliau tahu kalau aku sering memakai komputer yang itu untuk on line. Setahuku tidak. Apa lagi tahu kalau aku suka bintang. Ah, itu lebih ga mungkin lagi!!” pikirnya berulang-ulang. Atau jangan-jangan… mas Mukhlish???? Ah, tidak mungkin.
Esoknya, sebagai sekretaris kelas. Dia harus mengambil jurnal di fakultas.
“Assalamu’alaikum…” sapaan itu begitu lembut. Terasa sekali doa yang keluar itu ikhlas dia ucapkan.
“Wa’alaikum salam” jawab Alfa.
Wajah yang sudah tak asing lagi baginya, seorang laki-laki yang sempat singgahi hari-harinya. Namun hilang, karena masih ’haram’.
“Apa kabar?”
“I’m so well, Thank you. How about U?” Begitulah Alfa kalau bertemu dengan Rahman, bercakap-cakap dengan bahasa Inggris maupun bahasa Arab. Melatih skill. Meskipun untuk percakapan panjang mereka masih menggunakan bahasa Indonesia, bagi mereka ikhtiar adalah yang utama. Sedikit demi sedikit, pun akan terbiasa juga akhirnya.
“Ana bikhoir, ukhti… Madza Ta’maliin huna?”
“I’m taking my class journal. U???
“So do I.”
“Bagaimana kesibukanmu? Kuliah kamu? Lancar semua ta?”
“Yups, masih seperti yang dulu, sibuk dengan musyrif. Jadi kalau malam kurang tidur. Lagipula sekarang aku jadi aslab, jadi ya pastinya sibuk banget. Kamu sendiri?
“Aku masih sama, kerja sambil kuliah. Jadi aslab juga. Terus satu lagi kerjaanku ngerjain orang yang lagi serius. Hehehe…”
“Ah, kamu bisa aja!!!”
“Mari, aku mau ke laboratorium dulu.”
“Lho, tujuan kita sama Fa…, aku juga mau ke Lab.”
“Ya sudah, bareng aja, kita kan Lab-nya deket. Satu lantai gitu…”
“OK!!!”
Mereka pun menuju laboratorium yang ada di lantai 3. Sambil berjalan, Tak henti-hentinya Alfa mengagumi sosok yang sedang ada disampingnya, meskipun dari tadi ngobrol. Mata mereka tak pernah sekalipun adu pandang. Apalagi saling menatap dalam waktu lama.
“Ohya, tadi kamu bilang. Kamu sibuk banget. Masih suka lembur ampe pagi?”
“ya gitu deh…”
“masih inget janjinya kan?”
“janji???”
“janji untuk selalu fokus pada “pencarian ilmu”. Masih?”
“oh itu… Alfa masih inget ya?”
“harus!!! Kita kan harus saling ngingetin. Ohya, satu lagi kamu ga boleh ampe sakit ya?”
Alfa begitu perhatian dengan cowok yang satu ini, cowok yang ia kenal dari sahabatnya. Seorang cowok manis dengan paras rapi, berotak cerdas dan berwibawa. Begitu Alfa mengagumi cowok yang ada disampingnya itu. Ingin rasanya dia tidak mempercayai ke-perfect-an cowok itu. Tapi semakin lama dia mengamati cowok itu, semakin besar pula tanggungan hati yang ia punya. Dia harus mengakui betapa banyak pujian yang pantas Rahman terima dari manusia lain. “ Masyaallah, segala puji bagi Engkau yang telah menciptakan makhluk seindah ini.” Batinnya.
“Fa, kamu kok diem? Biasanya kamu cerewet?”
“Lagi ngebayangin ka…” Alfa tak melanjutkan. Hampir saja kelepasan. Pikirnya.
“ka apa?”
“Em… Kaka, itu tuh pemain sepak bola.”
“Waduh… masih sempet mikirin sepak bola ya kamu?”
“Gimana lagi, aku suka banget sih…”
“ow… suka kok sama pemain sepak bola, mending suka sama aku. Ada manfaatnya.”

—-continue—-